Kata-Kata Adalah JiWaKu

Hurt to get Heart

Posted on: 17 July 2009

“Malaikat itu hadir bersama kedamaian, tetapi hanya luka yang tersisa bagi jiwa.. (mencoba) untuk melepaskannya, hingga tak ada lagi kepak sayap yang patah..”
Entahlah.. hingga kapan raga ini mampu bertahan, sedangkan jiwa semakin rapuh.. hanya perasaan lelah yang selalu berkecamuk dalam dada..
Ingin rasanya mencoba berhenti pada persimpangan jalan tak berujung itu.
Meskipun lelah selalu berlari dan mencoba untuk mengakhiri.
Tetapi aku selalu bertahan untuk sebuah jiwa yang maya..
Sedangkan jiwa itu, selalu tinggalkan luka dan air mata..
Untuk apa aku di sini!!
Sekarang kucoba untuk mengakhiri, sebuah lakon dengan akhir cerita yang telah pasti [Y]
-17 Juli 2009-

Raga boleh mati tp jiwa tetaplah abadi… hanya raga yg dpt menjadi kepingan tetapi jiwa hanya sebuah rasa yg setiap saat dpt berubah.. bila ia telah menjadi kepingan ketika kau menemumkan cahaya itu maka kepingan itu dapat utuh kembali walau tak seutuhnya.. tergantung sejauh mana ia mampu merelakan itu… (Gung Wid)

Hurt to get Heart...

Hurt to get Heart...

hurt 2 get heart… ketika jiwa mulai melihat cahaya itu.. luka yg sakit mulai mengikis dalam satu masa.. hingga tiada lg bekas itu.. hurt 2 get heart…πŸ™‚

Untuk Jiwa yang Maya (entah engkau berada dimana)…
Untuk temanku Kebow yang beberapa menit lalu kasih comment di status FB-ku.. aku suka kata-kata kamu sobat.. thank a lot.. I miss u so much Widi ‘Kebow’πŸ™‚

5 Responses to "Hurt to get Heart"

Menulis…dalam arti berbicara tentang diri sendiri, terutama dalam balutan melankolia, bukanlah sesuatu yang mudah. Sebab, jika tulisan itu dimaksudkan sebagai suatu cara berhadapan dengan diri sendiri, sekaligus berusaha mengambil jarak dengan kesedihannya.
Lawan terberat manusia justru dirinya sendiri. Dengan kenyataan seperti ini, pilihan untuk berhadapan dgn diri sendiri : untuk bangkit, untuk tidak takluk pada nasib atau tragedinya, untuk tetap percaya bahwa akan selalu ada cahaya terang di jiwanya sekelam apapun cobaan atau pengalaman pahit itu, akan membuat hari-hari lebih mudah dijalani kembali.

Sungguh, saya selalu tertegun, setiap mengingat-ingat kembali aforisme Sisiphus dari Albert Camus tentang bagaimana absurdnya kehidupan ini.
Kita tahu bahwa di kisah itu, tiap kali Sisiphus berhasil mengangkat batu-batu itu ke puncak gunung, maka Dewa-Dewa akan menggulingkan kembali batu-batu itu ke dasar, kutukan seumur hidup itu Sisiphus hadapi dengan tegar, dengan tanpa penyesalan…
Tapi, tentu saja hidup bukan suatu “kutukan” tetapi anugerah, justru dari kisah itu, kita diajarkan bagaimana “bertarung” menghadapi cobaan, untuk tidak menyerah, untuk senantiasa mau belajar menemukan blessing in disguise dari cobaan atau kesulitan2 hidup.

Ya, pada akhirnya dengan menulis, kita berusaha mengidentifikasi -kan akar “masalah” dan membebaskan jiwa yang tidak ingin tertekan.
Maka, tabik dan hormat patut disampaikan kepadanya, yang ingin mencapai “kebebasan jiwa” itu.

Tuhan akan menuntun jalannya dan memberkati semua ikhtiar yang agung itu.

Karena hanya dengan menuangkannya dalam bentuk tulisan aku lebih dapat berkata-kata, aku lebih dapat menemukan kebebasan jiwa itu, bahkan aku dapat ‘menabrak’ apa yang tak dapat kulakukan dalam kehidupan nyata.. “kata-kata adalah jiwaku..”

Tengkyuu bang Enrico.. tulisan abang menyentuh banget.. menyadarkan aku bahwa seperti itulah Hidup..
Tetaplah berkata-kata, karena kata-kata adalah Jiwa.. ^^

luar biasa…..tulisan mu ….mantap ad….bakatmu untuk menulis bagus…karena dgn kata2 kita dapat mengubah dunia…dr segala hal…

tiada kehidupan dan kejujuran tanpa mata n air……………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: